Bulan Agustus seharusnya menjadi bulan penuh makna. Kita baru saja memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, hari ketika rakyat meneguhkan tekad untuk merdeka dari penindasan kolonial. Namun, ironi menyakitkan terjadi: Agustus tahun ini dibuka dengan elit bangsa berjoget-joget di Istana, lalu ditutup dengan tragedi memilukan ketika baracuda polisi melindas seorang driver ojek online di tengah aksi massa.
Kami, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Barat, tidak bisa diam menyaksikan kenyataan ini. Insiden baracuda tersebut bukanlah kecelakaan biasa. Itu adalah simbol kekuasaan yang kehilangan arah, bukti nyata bagaimana aparat yang seharusnya melindungi justru berubah menjadi mesin represif yang menggilas rakyatnya sendiri.
Kami Bertanya kepada Negara:
• Apakah nyawa rakyat kecil lebih murah daripada besi baracuda?
• Apakah darah rakyat harus selalu menjadi tumbal demi mempertahankan citra kekuasaan?
• Di mana letak janji konstitusi bahwa negara hadir untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia?
Tragedi ini memperlihatkan jurang yang semakin lebar antara rakyat dan penguasa. Di atas, para pejabat bersenang-senang; di bawah, rakyat ditindas dengan roda besi baracuda. Kontras inilah yang menciptakan kemarahan kolektif dan mempertebal rasa tidak percaya terhadap pemerintah maupun aparat penegak hukum.
Sikap dan Tuntutan DPD IMM Sulawesi Barat:
1. Mengecam keras tindakan represif aparat kepolisian yang telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Kami menolak segala bentuk pembenaran yang mencoba mengaburkan fakta.
2. Menuntut Presiden Republik Indonesia untuk turun langsung menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan mengakui kegagalan negara dalam melindungi rakyatnya.
3. Menuntut Kapolri segera mencopot aparat dan pejabat yang terlibat dalam tragedi ini, tanpa tebang pilih, serta menyeret mereka ke meja hukum.
4. Menuntut Kapolri segera mengundurkan diri dari jabatannya sebagai orang yang paling bertanggung jawab. atas inkompetensi dalam menertibkan instansi Kepolisian Republik Indonesia
5. Mendesak dilakukannya investigasi independen dengan melibatkan lembaga HAM, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil untuk memastikan transparansi.
Penutup
Agustus 1945 adalah momentum ketika bangsa ini berani berkata “tidak” terhadap penjajahan. Agustus 2025 ini justru memperlihatkan wajah lain penjajahan—bukan oleh asing, melainkan oleh aparat yang seharusnya menjadi pengayom. Negara sedang berpaling dari rakyatnya.
Kami, IMM Sulawesi Barat, berdiri tegak untuk menyatakan bahwa tragedi baracuda ini tidak boleh dibiarkan tenggelam oleh propaganda. Setiap tetes darah rakyat adalah alarm bahwa negeri ini sedang sakit. Dan ketika negara menutup mata, maka rakyatlah yang harus membuka suara.
Hidup mahasiswa!
Hidup rakyat tertindas!
Hormat kami,
Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Barat





