‎Hari Kebangkitan Nasional: Bangkit dari Ketidakpedulian, Menyalakan Kembali Nurani Bangsa


Setiap tanggal 20 Mei, bangsa ini kembali memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Namun pertanyaan penting yang perlu kita ajukan bersama adalah: bangkit dari apa, dan untuk siapa kebangkitan itu hari ini?

Di tengah derasnya arus informasi, kemajuan teknologi, dan pertumbuhan pembangunan di berbagai sektor, kita justru menyaksikan banyak hal yang membuat masyarakat kehilangan rasa percaya. Ketimpangan sosial semakin terasa, suara rakyat kecil sering tenggelam di tengah hiruk-pikuk kepentingan elite, sementara generasi muda tumbuh dalam situasi yang penuh tekanan ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, dan krisis keteladanan.

Hari Kebangkitan Nasional seharusnya tidak berhenti menjadi seremoni tahunan yang dipenuhi slogan dan spanduk. Kebangkitan yang sesungguhnya adalah ketika negara hadir dengan keberpihakan yang nyata kepada rakyat, ketika hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas, ketika pendidikan tidak hanya mencetak pencari kerja tetapi juga manusia yang berani berpikir kritis dan memiliki kepedulian sosial.

Kita juga harus jujur mengakui bahwa salah satu krisis terbesar bangsa hari ini adalah krisis kepedulian. Banyak orang memilih diam melihat ketidakadilan karena merasa persoalan sosial bukan urusannya. Budaya saling membantu mulai tergeser oleh individualisme. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang edukasi dan solidaritas justru sering dipenuhi ujaran kebencian, fitnah, dan pertengkaran yang memecah persaudaraan.

Di sisi lain, rakyat kecil masih harus berjuang menghadapi harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, akses pendidikan dan kesehatan yang belum merata, serta lapangan kerja yang semakin kompetitif. Tidak sedikit anak muda yang kehilangan harapan karena merasa masa depan hanya milik mereka yang memiliki akses dan kekuasaan.

Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional tahun ini harus menjadi momentum untuk membangkitkan kembali kesadaran kolektif bangsa. Kita membutuhkan kebangkitan moral, kebangkitan empati, dan kebangkitan keberanian untuk menyuarakan kebenaran.

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang mulai langka adalah orang-orang yang mau menggunakan pengetahuan dan kekuasaannya untuk membela kepentingan masyarakat luas. Kita tidak kekurangan pembangunan fisik, tetapi kita mulai kehilangan pembangunan nilai. Jalan bisa diperlebar, gedung bisa ditinggikan, tetapi jika kejujuran semakin runtuh dan kepedulian semakin hilang, maka sesungguhnya bangsa ini sedang berjalan tanpa arah.

LSM Masagena percaya bahwa perubahan tidak akan lahir hanya dari pidato-pidato besar, melainkan dari keberanian masyarakat untuk peduli dan terlibat. Kebangkitan nasional hari ini bukan lagi tentang melawan penjajah dalam bentuk fisik, tetapi melawan kemiskinan, kebodohan, korupsi, intoleransi, penyalahgunaan kekuasaan, serta sikap apatis yang perlahan melemahkan masa depan bangsa.

Generasi muda memiliki peran besar dalam menentukan arah Indonesia ke depan. Anak muda jangan hanya dijadikan objek politik lima tahunan atau pasar digital semata. Mereka harus diberikan ruang untuk berpikir, berkarya, dan ikut menentukan kebijakan publik. Kritik anak muda jangan dianggap ancaman, karena sejarah bangsa ini justru bergerak maju oleh keberanian generasi mudanya.

Kita perlu membangun budaya demokrasi yang sehat, di mana kritik tidak dibalas dengan kebencian, dan perbedaan pendapat tidak dianggap permusuhan. Bangsa yang besar bukan bangsa yang bebas dari kritik, tetapi bangsa yang mampu menerima kritik sebagai bagian dari proses memperbaiki diri.

Hari Kebangkitan Nasional juga menjadi pengingat bahwa persatuan tidak boleh hanya diucapkan saat momentum politik atau perayaan kenegaraan. Persatuan harus diwujudkan dalam keadilan sosial, kesempatan yang setara, dan perlindungan terhadap kelompok yang lemah.

Sebagai bagian dari masyarakat sipil, LSM Masagena akan terus mendorong hadirnya ruang-ruang pendidikan sosial, penguatan partisipasi masyarakat, serta pengawasan terhadap kebijakan publik agar tetap berpihak kepada kepentingan rakyat.

Hari ini, Indonesia tidak membutuhkan rakyat yang hanya pandai bertepuk tangan. Indonesia membutuhkan warga yang berani berpikir, peduli terhadap sesama, dan memiliki keberanian moral untuk menjaga masa depan bangsa.

Maka, mari kita maknai Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi sebagai ajakan untuk bangkit dari ketidakpedulian, melawan ketidakadilan, dan menyalakan kembali nurani bangsa.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju teknologinya, tetapi bangsa yang tetap memiliki hati nurani.

Oleh: Sahdan Husain, Ketua LSM Masagena