Sulawesi Barat - Ilmu kedokteran forensik sering dibayangkan hanya berkutat di kamar jenazah, olah TKP, autopsi, dan laboratorium. Padahal di balik jas putih dan mikroskop, ada satu pertanyaan besar yang sering terlewat: mengapa kejahatan itu bisa terjadi di masyarakat tersebut?
Di sinilah pentingnya pendekatan *Sosiologi Forensik*.
Sebagai seseorang yang menempuh ilmu sosiologi sebelum menjadi dokter forensik, saya melihat ada benang merah yang hilang dalam praktik _Scientific Crime Investigation (SCI)_ selama ini. SCI sangat canggih untuk menjawab _how_ - bagaimana korban meninggal, apa penyebabnya, dan apa buktinya. Namun SCI akan menjadi lebih utuh jika dilengkapi dengan jawaban atas _why_ - mengapa konteks sosial memungkinkan kejahatan itu tumbuh.
Pola kriminalitas di Indonesia menunjukkan perbedaan yang sangat kontras antara kota dan desa, yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan bukti biologis.
*1. Kota: Kejahatan dalam Keramaian*
Di perkotaan metropolitan, kriminalitas didorong oleh tiga faktor utama.
_Pertama, tekanan ekonomi._ Biaya hidup tinggi dan pengangguran menjadi pemicu kejahatan harta benda.
_Kedua, gaya hidup konsumtif._ Tekanan sosial untuk tampil mapan mendorong penipuan, penggelapan, hingga pencurian.
_Ketiga, anonimitas._ Di kota, minimnya ikatan sosial membuat pelaku sulit dikenali dan kontrol sosial menjadi lemah.
*2. Desa: Kejahatan dalam Kedekatan*
Berbeda dengan kota, di pedesaan konflik seringkali dipicu oleh hal yang justru sangat dekat.
_Pertama, sengketa lahan._ Konflik batas tanah dan warisan lahan pertanian menjadi pemicu utama kekerasan.
_Kedua, harga diri atau kehormatan._ Perselisihan kehormatan keluarga dan pelanggaran adat masih menjadi pemicu yang sensitif.
_Ketiga, relasi kekerabatan._ Justru karena semua orang saling kenal, konflik internal keluarga bisa meledak menjadi tindak pidana.
*3. Zaman Modern: Kejahatan Berwajah Baru*
Di era modern, batas kota dan desa menjadi kabur. Kejahatan kini tidak lagi hanya soal fisik, tetapi juga digital dan simbolik.
Di kota modern, kejahatan berevolusi menjadi penipuan online, pinjol ilegal, dan kekerasan berbasis media sosial. Anonimitas yang dulu hanya di gang-gang kota, kini terjadi di ruang digital.
Di desa modern, sengketa lahan diperparah oleh masuknya investasi, alih fungsi lahan, dan informasi harga tanah dari internet yang tidak merata. Konflik kekerabatan pun membesar karena warisan tidak hanya tanah, tetapi juga aset digital dan klaim bantuan sosial.
Artinya, SCI modern tidak hanya menganalisis darah dan tanah di TKP, tetapi juga jejak digital, rekam jejak transaksi elektronik, dan narasi media sosial.
*Tiga Teori Sosiologi untuk Membacanya*
*a. Teori Anomie - Emile Durkheim:* Kejahatan lahir saat norma sosial melemah akibat perubahan cepat.
*b. Teori Disorganisasi Sosial - Shaw & McKay:* Tinggi rendahnya kejahatan ditentukan oleh lemahnya organisasi sosial wilayah.
*c. Teori Masyarakat Risiko - Ulrich Beck:* Ini teori kunci zaman modern. Masyarakat hidup dalam kecemasan akan risiko yang diciptakannya sendiri: risiko teknologi, informasi palsu, dan ekonomi digital. Pinjol ilegal, judi online, dan penipuan investasi adalah bentuk nyata dari masyarakat risiko.
*Satu Prinsip Kunci Kedokteran Forensik*
Semua analisis sosial itu harus dibuktikan secara ilmiah melalui *Teori Pertukaran Locard dari Edmond Locard:* _Every contact leaves a trace - Setiap persentuhan pasti meninggalkan jejak._
Di zaman modern, jejak itu tidak hanya fisik seperti serat kain dan DNA, tetapi juga jejak digital: log IP address, jejak chat, transfer digital, dan metadata foto.
Dengan memadukan SCI, Prinsip Locard, serta tiga teori sosiologi di atas, seorang dokter forensik tidak hanya mampu mengatakan "korban meninggal karena apa", tetapi juga menjelaskan "mengapa peristiwa itu bisa terjadi di struktur masyarakat ini" dan memberikan rekomendasi pencegahan.
Inilah esensi sosiologi forensik di zaman modern. Dari kota hingga desa, dari jejak tanah hingga jejak digital, bukti ilmiah harus bertemu dengan kepekaan sosial.
---
_Penulis adalah Sosiolog dan Dokter Forensik, Alumni Sosiologi dan Kedokteran, pemerhati isu Scientific Crime Investigation (SCI)._
_Oleh: Mauluddin M - Sosiolog & Dokter Forensik_





